Showing posts with label Online Discussion Groups. Show all posts
Showing posts with label Online Discussion Groups. Show all posts

Monday, June 7, 2021

Influencer Jaman Dulu

Lantas bagaimana dengan studi kasus perusahaan yang ada di dalam negeri. mungkin ada yang bantu menambahkan.

Bisa jadi sama pak, atau malah kondisi beberapa mendatang, kalau dulu supplier ada 10 pilihan, competitor ada 5 perusahaan, customer ada ratusan, kondisi mendatang suplier hanya ada 2 pilihan, competitor 4, customer tetap ratusan. bagaimana keberlangsungan bisnis jika kondisinya demikian, disamping permasalahan distribusi.

kita ambil paling dekat saja, dengan kehidupan kita, Rokok Dji Sam Soe? atau penggemar kuliner sate atau gule, yang menggunakan Kecap Cap Sate. apakah menerapkan yang diatas? atau malah ada kiat kiat khusus.

tulisan Bagaimana Perusahaan dapat Bertahan Lebih dari Seabad? sangat menggelitik, untuk memulai pembahasan, bagaimana perusahaan dapat berjalan lebih dari 1 abad, namun akan lebih menarik jika skala kecil UMKM atau perusahaan lokal yang bertahan, kalau dji sam soe dengan bendera besarnya sampoerna, bagaimana merk lain. tentu pengelolaan perusahaan, bukan hanya masalah ada di profesional, lantas bagaimana dengan intrik drama yang terjadi di keluarga.

Jamu iboe itu juga sudah lebih dr 100 th.

Klo di kediri ada kecap sawi. Sejak 1935 sejarahnya.

Mungkin brand bisa jadi salah satu faktor dalam company's sustainability?

bisa jadi, karena brand terbentuk dari Voice of Customer. itu aliran yang saya anut. brand itu tercipta alamiah.

Untuk lokal : 1. Pertahankan kualitas dan mutu 2. Inovasi / membuat produk yang relevan dengan jaman 3. Menguatkan dan membesarkan Brand

Betul Mas, Dahulu sebelum muncul kecap-kecap nasional, bango, abc, sedap. Di kediri hanya ada kecap sawi saja di semua toko hampir 90% mungkin. Karena salah satu memori masa kecil adalah makan nasi hangat-hangat hanya dengan  kecap sawi sudah sangat lezat.

Saya yakini, jawaban diatas benar, namun pada kondisi kenyataanya, "la lapo, saiki ae wes rame", dan beberapa yang menerapkan seperti itu ya tetap survive, kecap cap sate, apanya yang mau di inovasi, kecap ya kecap.

sangat menarik bukan, produknya tetap, tapi masih digunakan sampai saat ini, ya paling hanya ganti kemasan.

Dari kemasan mungkin, yg lebih ergonimis. Iya, itu nama nya inovasi.

Nah ini mungkin yang disebut success syndrome. Terlalu asyik dengan kesuksesan sehingga tidak aware ada kompetitor membayangi, operation dan logistics yang mulai complicated, etc.

Kecap sawi new packaging.

Bisa jadi, ini terbentuk karena rasa kekeluargaan, pembelajaran ini yang saya dapatkan ketika market survey di salah satu kota di indonesia, mereka pemilik toko lebih ke rasa "sungkan" menerima produk lain, karena dulunya dibantu oleh seseorang.

mereka buka toko, dimodali dan diberi barang juga. hingga sampai saat ini berhasil punya toko, dan tetap produk yang dijual ya produk itu saja. dan survive.

Kecap sambal, Kecap rasa udang, kecap rasa bawang, ya memang perlu survey pasar.

Berarti brand awareness nya sudah masuk ke alam bawah sadar konsumen mungkin?

Klo saya ditanya kecap ya pasti kecap sawi, di rumah keluarga juga adanya kecap sawi untuk konsumsi Keluarga.

Benar ini, sudah merasa no 1 akhir nya lengah.

tapi tetep kembalinya ke kecap semula..namun ya sampai saat ini masih operation bertahun tahun.. bagaimana dong. pendekatan profesional pun mungkin akan kalah dengan sense of bussiness mereka

Berarti ada variabel quality juga ... 

ini yang ngga didapat oleh profesional, pendekatan sense of bussiness, terlebih dalam family bussiness

Yup dalam inovasi kan tidak harus semua sukses, yg sukses di pertahan kan, always continuous improvement

nah ini salah satunya, hampir mirip dengan cara jualan mobil jaman dulu, dimana dalam sebuah perkampungan atau desa, cukup "pak haji" saja yang diberikan diskon khusus beli pickup, begitu pak haji beli pickup, otonatis lainnya juga ikutan

Saya punya rekan, salah satu produsen rokok kretek, di bojonegoro. awalnya industrinya padat karya, lancar sukses, namun saat mulai pindah ke mesin otomatisasi, malah mulai menurun..

lantas kalau pemahaman, yang penting bisa mbuka lapangan kerja, orang banyak bekerja, maka rejeki pun lancar. apakah ini juga salah satu faktor. coba dilihat industri tradisional, yang padat karya malah lebih bergeliat daripada mereka masuk ke modernisasi.

menarik pembahasan ini

Menarik Boss sudut pandang nya, bisa dipakai untuk bahan penelitian ... 

karena fenomena itu terjadi

Doa pekerja berpengaruh pada rezeki perusahaan an.......AQ rasa handmade itu lebih memiliki citarasa sendiri, mungkin karena peralihan ke otomatisasi merubah citarasa yg sebelumnya.....Buktinya Djie Sam Soe, masih setia tanpa otomatisasi.....

berarti kalo zaman now, cukup influencer saja yang di beri gratis, kemduian uplod di chanel nya untuk direview

Ooh faktor spiritual juga berpengaruh berarti Om

bisa juga karena faktor voice of customer td, karena ratusan karyawannya dirmahkan akhirnya menimbulkan empati untuk "boikot" produknya

Sebuah kisah dan Sudut Pandang. Generasi 1 : terima kasih saya dibantu bikin usaha ini berjalan ya bapak ibu, terima kasih terima kasih. Generasi 2 : Papa senang diberi perusahaan ini oleh kakekmu, karena bisa memperkerjakan banyak orang, bisa membantu banyak orang, doai aja ya nak biar usaha ini jalan terus banyak bisa kita bantu orang orang, kamu pun hidup berkecukupan, bisa sekolah di luar negeri, Generasi 3 : (Kembalinya sekolah di luar negeri) pah, kenapa ngga mulai kita pakai mesin, robot kayak pabrik temenku, enak otomatis, hasilnya cepat, ndak perlu lagi urus pekerja pekerja yang mogok.

kalau metode handmade ini bagaimana menjaga standard, bisa menjadi pembahasan manarik.

Pak haji itu sosok influencer jaman dulu, tanpa berpikir aneh aneh, pokonya usaha jalan, barang bagus dinilai bagus. kalau influencer jaman skr ini yang agak sulit dinilai 

tidak semua produk bisa dihasilkan pake otomatisasi 

Brand, tercipta dari persepsi konsumen.

nah topiknya menajdi menarik kan, coba meng-anlisa, apakah toko oen mengenal QCC, GKM atau Fish Diagram..., apakah tahu kuning kediri juga? apakah pabrik rokok kretekpun juga mengenal

Sama kayak makan indomie buatan di rumah dengan di warung, lak di warung bikin nagih, padahal bikinnya ya sekenaknya 

Memang rata2 perusahaan keluarga rentan di uji pada pada generasi ke 3

sangat menarik melihat perilaku industri, ada juga sebuah pabrik sudah besar, melenggenda, eh pailit, pailitnya bukan masalah di sales atau distribusi atau produknya, pailitnya karena gaya hidup pemilik. pagi di jakarta siang di singapore buat belaja sore sudah di surabaya, penggunaan kartu kredit pun menggila, hingga menumpuk.

padahal usianya sudah puluhan tahun, dan saya yakini diantara bapak dan ibu menggunakan produk tersebut saat shalat id kmrn..

ada teman main saya juga, sampai skr dia tidak dipegangin pabrik cat orang tuanya, padahal udah usia orang tuanya dan sudah pantas untuk diwariskan, eh malah dibukain pabrik sendiri 

bahkan sempat ada ungkapan = Generasi pertama merintis. Generasi kedua membangun. Generasi ketiga menghancurkan. Entah si generasi ketiga ini lulusan dlm negeri or luar negeri

kenapa saya angkat topik ini, karena ini yang kita hadapi sehari hari, mungkin beda cerita dengan perusahaan luar negeri, karena saya yakini ada citra rasa pengelolaan yang mendekatif kearifan lokal

Di test, kalo layak maka bakalan di merger itu

kalau kita amati di sekeliling kita. ah pabrik cat sama pabrik kosmetik e masss piyeee 

mengelola perusahaan yg pendekatan memakai kearifan lokal juga besar pengaruhnya

Iya pak ini yang mulai dilakukan beberapa pengusaha, seperti bos saya, dia lebih memilih memperkerjakan para professional utk usaha nya saat ini, anak nya malah rencana di buka kan usaha sendiri sesuai dgn keinginan masing2 anak nya

gawatnya kalau profesionalnya itu tidak "cinta" sama produk jadinya. kalau orang ngomong, ngga passion sama produknya. ngga ngeblend sama si malika, kedelai hitam.

Waduh gawat nik kl professional harus cinta di produk, cinta di bidang proses nya saja pak,.yg suka wh ya di wh, yg suka logistik ya di log nya, begitu juga dgn ppic, supply chain, produksi dan qc 

Kalau mesti dipaksa cinta, sepertinya agak susah Om

Malah harus nya professional memberi nilai lebih pada produk

Profesional yang disayang, biasanya yang helicopter view.

untuk memiliki pandangan seluas helikopter ini, juga butuh latihan berbulan-bulan Om 

nihhh pengusaha kuliner mungkin bisa memberikan kesaksiannya 

luas dan lebih objective dan general, tapi tetap ada menilai, menganalisa dan menghitung

Berarti profesional pun harus punya sense of entrepreneurship ya ...? 

Secara tidak langsung itu yang diajarkan kepada saya.., ngga melulu profesional, pendekatan jika menjadi pemilik sesungguhnya apa yang dilakukan.

Masih belum paham mengapa kita mesti memiliki sense of pemilik usaha?

contoh sederhana. Mas rully punya usaha bebek purnama. mas rully dibantu 2 tenaga, yang satu sangat paham akan produk bebek mas, mulai dari penggorengan dan tingkat kematangan, yang satu pokoknya digoreng aja, dan dihidangkan. lebih suka yang mana? itu contoh sederhananya

jelas prefer yg paham menggoreng, tingkat kematangan & menghidangkan

bekerja dgn hati yg ikhlas berarti ya Om. maksudnya utk dapat sense of pemilik usaha, pd awalnya kita mesti bekerja dgn hati yg ikhlas dahulu.

bukan hati yang ikhlas. namun layaknya diirmu pemilik usaha

Apa mungkin karena para pekerja dan pegawai di masa lalu lebih dedicated dan lebih nriman, sehingga performance secara menyeluruh sangat total dibandingkan dengan tenaga kerja saat ini? Sehingga perusahaan dapat berjalan dengan kekuatan full dan konstan dan me-maintain sustainable pada akhirnya ...?

saya berpikirnya begitu..pekerja dulu lebih melihat ke balas budi. karena sudah dibantu

Menarik Boss, karena ini sudah mulai menyentuh aspek triple bottom line dalam Sustainable Development ... 

Pekerja jaman dulu lebih kearah bekerja dan mengabdi.......Makanya loyal bgt.....

barangkali tdk bisa dipaksakan pekerja zaman now buat memiliki pola berpikir/sense seperti pekerja zaman dahulu

karena terjebak culture. kalau ngga UMR mana mau.., kalau ndak gaji 5 juta mana mau...,disisi pengusaha. gila apa bayar segitu, omset aja ndak nyampe. justru loyalis loyalis yang menemani mereka dari awal itulah yang pada akhirnya menikmati. kembali lagi ini sudut pandang, yang ngga bisa langsung masuk kiri kelaur kanan. namun faktanya terjadi hari ini. calon pekerja kesulitan cari kerjaan, pemilik usaha kesulitan mencari pekerja.

Nah ini sebenarnya mungkin bisa dikategorikan sebagai sebuah disrupsi, tidak hand in hand antara pengusaha dan para pekerjanya, karena tidak berjalan bareng karena misi dan visi yang berbeda ...

Utk pekerjaan, byk informasi lowongan di internet Om. Tapi jodoh"-an sih sebenarnya cari kerjaan ituh

iya bisa jadi kalangan dunia pendidikan perlu dibantu untuk mendidik karakter calon pekerja saat masuk dunia kerja

Harapan pengusaha, "Multitasking, productivity tinggi, punya sense of ownership, Gaji UMK  aja dah, KL bisa di bawahe". Impian pekerja, "Gaji naik 20% per tahun, ada bonus tahunan, Sabtu Minggu libur, lebaran bisa libur 2 mgg, dapat makan siang, pulang bisa ontime". Ga ada nyambungnya

yups some kind conflict of interest

hahahaha, faktanya demikian

Ini saya setuju.. djie sam soe salah satunya.. rokok ini dalam ulasan sejarahnya mempengaruhi jatuh dan bangunnya "kinerja" bisnis sampoerna..

Produk yg di keramatkan Ama produsen, spt gudang garam merah juga...

Saturday, June 5, 2021

ASSET-LIGHT ECONOMY

The End of ASSET-HEAVY Company

Seminggu ini ada 3 peristiwa yg bisa ditarik benang merahnya. Tiga peristiwa itu adl:

  • Bank BNI 46 menutup 96 kantor cabang tahun ini.
  • Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air menawarkan pensiun dini kepada karyawannya. Garuda bahkan akan memangkas armadanya mjd hanya separuhya.
  • Dan terakhir, Hero Group akan menutup seluruh Giant supermarket akhir Juli 2021.

Apa yg salah dr perusahaan2 tsb di tengah pandemi yg sdh meradang 1,5 tahun ini? 

Selama 3 tahun terakhir ini kita menghadapi TRIPLE DISRUPTION sekaligus: DIGITAL disruption + MILLENNIAL disruption + PANDEMIC disruption.  Perushaan sprti apa yg mjd "target pembunuhan" triple disruption tsb? 

Yaitu perusahaan yg sy sebut: ASSET-HEAVY COMPANY. Yaitu perusahaan2 yg memiliki aset fisik sebesar gaban n beban overhead-nya berat n begitu menghimpit.

Dalam kasus Airlines, overhead yg menghimpit itu adl operasi pesawat. Dalam kasus bank adl operasi kantor cabang n jumlah pegawai yg besar. Atau klo ritel adl biaya properti yg mahal n dibiayai pinjaman bank.

"PLATFORM COMPANY" sprti Gojek, Toped, or Traveloka, mrk adl ASSET-LIGHT COMPANY. Gojek misalnya tak perlu membayar gaji bulanan tukang ojol, tak seperti halnya Blue Bird. 

Begitupun UKM adalah ASSET-LIGHT company. Karena itu saya meyakini UKM bakal lebih resilient dan lebih agile dalam bermanuver menghadapi gonjang-ganjing triple disruption. 

Contohnya, di masa pandemi bisnis travel agent tiarap. Karena itu banyak UKM yang bergerak di travel agent melakukan pivot ke resto misalnya. “Kemewahan” ini tak mungkin didapatkan perusahaan besar dengan overhead yang besar.

TRIPLE DISRUPTION akan terus memakan korban. Dan korban2 awal yg akan makin sering kita dengar beritanya bbrp minggu ke depan adl prusahaan2 yg punya aset fisik besar n overhead yg berat: ASSET-HEAVY company.

Welcome ASSET-LIGHT ECONOMY.


Berawal dari artikel diatas, akhirnya terbukalah diskusi online di Grup WA IPOMS Surabaya

Please allow me to share the insightful notes from you to my university students. Thank you


Mantab... namun apakah semua bisnis harus Asset light company? Tentu tidak dong.. ada beberapa bisnis yg memang naturenya asset heavy company seperti misalnya perusahaan pertambanga, pengeboran minyak dll.. 

Apakah mereka akan terdampak dengan tripple disruption yg disebut oleh Mas Rully? Monggo diskusikan bersama.. jika ada apakah parsial atau ketiga disruption tsb secara bersama-sama?.. monggo..

Nah asset light yg memang dideskripsikan. Saya tadi sempat berpikir. Apa sistem garuda atau sriwijaya. Sebenarnya masalah karena triple atau, memang casflow mereka terganggu. Akibat pandemi. Kalau dulu setiap pesawat mampu menghidupi dirinya karena dia terbang mulu.

Berdasarkan info yg saya tau... Demand nya anjlok 90%.... Bukan faktor disruption

Nah mulai kita preteli satu persatu mana distruption mana efek pandemic. Kalau BNI saya lihatnya distruption. Kalau dunia perbankan. Perbankan lebih rentan, coba tengok kondisi skr dengan adanya mobile banking dan atm setor tunai.

bisa jadi dengan jarang terbang biaya perawatan tinggi . Untuk menekan kerugian pesawat di jadikan besi tua . Seperti yg pernah diulas oleh bapak Dahlan iskan . Kapal pesiar di besi Tuakan

Sudah cukup kan. Kebutuhan nasabah. Mau nabung ya ke mesin setor tunai. Mau ambil ya ke mesin atm. Hingga skr layanan kreditpun dalam jumlah tertentu sudah mulai online. Tak perlu datang ke bank. Nah nasabah sudah mulai bergeser kan. Lantas daripada cost sewa kantor membengkak, mulailah dirampingkan. Dari 5 cabang misal dijadikan 1 cabang. Justru yg belum terlihat efektivitas dari penggunaan satelit oleh BRI, mereka sampai invest satelit sendiri. Bisa jadi dialihkan ke anak perusahaan baru. Jadi nanti sistemnya bisa sewa kali ya.

Grab pesawat

Kalau dulu tiap maskapai punya pesawat sendiri sendiri, kedepan mereka bisa jadi sewa

lah ini di ometv buka cabang BNI di London

Filosofi kantong kiri dan kanan, kalau dalam family bussiness. Mungkin ada proyek yg didanai disana, jadi mereka dapat priveledge buka cabang. Sama seperi kalau pernah lihat bank. CTBC China kalau ngga salah. Sekitaran itu namanya. Ada juga di indo namun ya mungkin kantor perwakilan

Diskusi yang menarik

Mungkin yang juga tidak kurang menarik adalah membahas perusahaan yang telah bertahan lebih satu abad atau yang berdiri sejak abad ke-19. Banyak di antara mereka yang masih bisa tetap exist dan tentunya mereka telah melampaui berbagai tahapan disruption dalam aktifitas bisnis mereka (e.g. world wars, economic collapsed, etc.) Mungkin ada take away yang bisa diambil dari how they actually maintain the sustainability in business ...

Yang ini umur-nya 200 thn https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5592453/bumn-berumur-200-tahun-mati-suri-mungkinkah-hidup-lagi  

Ambil role model yang lebih sukses saja

Mungkin kawan2 bisa bahas tuh 3 disruption yg disampaikan dan apa batasan asset heavy company dan asset light company..Dalam bisnis, environment dan aspek  lain senantiasa menawarkan 2 dampak yaitu positif dan negatif. Case di perusahaan saya, sales demand naik tidak saja di Indonesia tp juga di dunia lain, namun logistic get negative impact.. artinya pandemi tidak selamanya memberikan negative impact tp ada ceruk2 bisnis yg get opportunities.. monggo.

Monday, September 16, 2019

Testimoni Study Group ke-34 & Ide FGD


Belum 1 hari para member IPOMS Chapter Surabaya selesai berdiskusi dan melakukan Study Group di kampus MMT-ITS, ternyata kemudian berlanjut diskusinya di media online, di whatsapp group. Beberapa member memberikan apresiasi dan masukan mengenai acara Study Group ke-34 kemarin, diantaranya yaitu :

SSG-087 Budi Purwanto : kasih quetioner kepeserta. apa strenght dan weakness dari acara kemarin dan harapan dari peserta untuk masukan pengurus
SSG-172 Andri Sofyan : 👍 sukses IPOMS, pertahankan terus 💪
Rico : Sukses IPOMS Surabaya 🤩
SSG-162 Robi Fajarillah Rangkuti : Sekali sekali kasih study kasus, anggota ipoms beri solusi masing2, yg di email kan ke email ipoms, jawaban dan analisa terbaik di beri apresiasi
SSG-204 Rusdi : Semoga ilmu dan presentasenya membuka wawasan kita utk melangkah lagi ke depan
SSG-184 Sutjipto : Trims, sama2 p. Yanuar, Smg FGD ini langgeng.
SSG-154 Sambodo : Sukses trus buat IPOMS
SSG-118 Joko Seget : Baik pak, Terima kasih banyak atas ilmu baru nya
SSG-200 Noviansyah SSG: Terima kasih kepada semua Pengurus SSG dan IPOMS. Sukses terus.
SSG-152 Achamd SSG : Terimakasih juga pak telah menyelenggarakan acara yg luar biasa . Kami tunggu acara2 selanjutnyaa



Testimoni yang masuk kemudian berlanjut menjadi diskusi online, setelah Cak Amik mengemukakan ide dan kegiatan IPOMS Chapter Surabaya selanjutnya : "Insya allah akan diadakan FGD per disiplin/issue. Bagi temen2 IPOMS yang punya ide tema FGD sambil kopdar kecil2ab bisa disampaikan disini or melalui pengurus utk bisa difasilitasi".

Dan disambung oleh pak Agung Ektika : "Sesuai info dari Cak Amik diatas kami akan fasilitasi juga per sector topics diskusi nah monggo di list dulu kira2 apa yg menjadi prioritas dari pain poin yg ada ... kemudian baru bisa diskusi sektoral agar lebih fokus"

Lalu Arif R mengatakan bahwa yang menarik sebenarnya meneruskan yang kemarin, yaitu tentang UMKB & PLB.

Dan akan menarik apalagi jika dibantu menciptakan distribusi se-Indonesia. Misalnya dengan membuat kan DC (stokist), seluruh Indonesia, dibuatkan start up baru oleh pengusaha-pengusaha dagang produk UKM. Sehingga kemudian kita bermain di system dan distribusinya.

Selain itu juga ada topik yang menarik lainnya yaitu mengenai Road_train, yang kemarin sempat disinggung oleh pak Ahau dan pak Wahyu, yaitu utilisasi tol trans jawa untuk pemerataan pembangunan Jawa. Serta yang tak kalah menarik adalah mengenai utilisasi kargo via kereta api.

Untuk tol masih dirasa kemahalan, sekali trip sekitar 1.3 jutaan , kalau bisa turun dibawah 800 ribu mungkin bisa menjadi oke. Sehingga tol lebih sesuai dan lebih tepat untuk pengiriman ekspress dan urgent aja.

Dua ide yang sangat menarik, syukur-syukur nanti banyak FGD bisa tercipta banyak startup lokal baru atau minimal membantu masing-masing company dalam improvisasi dan "solve the pain". Kolaborasi dan korporaritasi.

Beberapa pain yaitu diantaranya adalah :
  1. Pengalaman dari yang melakukan kajian surface untuk shifting distribusi barang di jawa, dari Truck ke Kereta Api & Tol Laut, bahwa kendala utamanya masih di infrastruktur.
  2. Kereta api masih belum bisa semua tujuan menerima container, sehingga masih ada PR yang harus dikerjakan. Juga vendor untuk penerusan barang-barang kecil. Support vendor di daerah juga masih minim.

Semua pain diatas dikarenakan belum banyak yang ngelirik.

Harusnya metode pengiriman ini bisa lebih optimal layanannya, ada salah satu member yang pernah punya pengalaman cargo dari Cikarang ke Mojokerto yang sampainya hingga 10 hari, padahal status nya FCL bukan LCL.

Saat ditawarkan loss cargo on flat deck, namun tidak berani karena alasan safety.

Secara prinsip harusnya bisa lebih murah, hanya saja apakah karena marketing development-nya masih "tradisional" sehingga tidak bisa jadi solusi?

Ada pengalaman dari customer salah satu member IPOMS yang pakai kereta api (kalog) dan land transport, dengan kereta issue-nya masih lead time yang lebih panjang padahal rate-nya lebih murah, yang perlu dipikirkan bagaimana cara agar lead time kereta sama atau lebih baik dari land transport.

Lead time-nya lebih lama, jika saja bisa ada pemanfaatan lahan disamping tol sekarang untuk KA kargo, jadi tidak 1 rel dengan KA angkutan orang, serta ada pemisahan per gerbong barang per wilayah tujuan, mungkin bisa lebih cepat.

Selain lead time, challenge utamanya ada pada Logistic Cost. Tidak banyak port di Indonesia yang mampu handle bulk vessel 10.000 ton. Ternyata masih ada parameter lain yang harus di-consider. Parameter tersebut diantaranya adalah :
  1. Frekuensi, pihak KAI expect untuk delivery rutin (daily/weekly based) dimana kebutuhan kami hanya monthly loading. Jadi kami planning bikin beberapa lokasi pabrik (smaller capacity), dan local warehouse, untuk monthly collecting sewaktu akan loading ke vessel.
  2. Infrastruktur, untuk 1 rangkaian kereta bulk loading, minimal gerbong sekitar 15 gerbong, up to 20 gerbong. Belum semua stasiun ready, dan ada possibility untuk menambah fasilitas (yang belum jelas akan jadi scope siapa) 
  3. Lead Time, akan riskan jika lead time tidak bisa dipastikan karena loading bulk material to vessel biasanya hanya limited time. Dari pengalaman sebelumnya, harus bisa selesai loading to vessel 10.000 ton dalam waktu hanya 4 hari. Jika ada delay akan berimplikasi signifikan
Semua parameter yang disampaikan diatas rasanya diskusi online tidak akan cukup kecuali dibawa ke next Study Group.

Karena memang angkutan via kereta ini menarik dibahas karena secara teori lebih efektif dan efisien, cuma di sini masih banyak kendalanya. Beberapa pengalaman yang juga sempat mau mencoba, terkendala lead time, bahkan sekarang malah tutup depo yang ada di Waru.

Kendala adalah sajian untuk dibahas.

Pilihannya jika tidak dibahas di next Study Group, setidaknya dilanjutkan ke webinar pertama IPOMS Surabaya. Diskusi via web conference.

Let's do the IPOMS webinar.

Saturday, September 14, 2019

Countinuous Improvement Mindset


Countinuous Improvement (CI)
  1. Think End to End process, not SILO
  2. There is no best process, there id better process
  3. Don't hide problem, problem is opportunity 
  4. Don't blame on the  people.. check and improve the process
  5. It doesn't have to be perfect the first time .. what's important is " Better than before "

Langkah-langkah diatas ada beberapa dilemanya, yaitu

Point 2 :
Adakalanya management merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita lakukan, padahal menurut kita jika kita melakukan perubahan di suatu area atau aktivitas itu sudah cukup membuat pekerjaan menjadi efektif, efisien dan goal-nya dapat. Mereka beranggapan kita telat dalam melakukan perubahan bahkan menganggap kita tidak kerja di situ.

Point 4 :
Kebiasaan orang +62 adalah sering menyalahkan orang terlebih dahulu, padahal belum tentu orang yang salah. Mungkin saja sistem yang kita buat itu yang kurang tepat, sehingga memungkinkan orang untuk berbuat salah.

Dalam sudut pandang lain, berarti management sudah menjalankan tugasnya, yaitu selalu merasa tidak puas, karena kalau management sudah terbiasa memiliki mudah puas, itu merupakan hal yang bahaya.

Ada beberapa prinsipnya supaya terbangun CI mindset dengan behaviour yang top. Langkah-langkah yang dilakukan management:
  1. Build the team, with talent
  2. Put & implement right method, by training and related workshop.
  3. Reach higher performanve and seek perfection..

Jadi dengan fokus di proses #1 dan #2, otomatis #3 juga akan tercapai.

Ada beberapa hal yang perlu dalam Change Management, dengan detail sebagai berikut :
  1. Create a clear background and sense of urgency.
  2. Define  a clear GOAL and Objective
  3. Changing in Mindset.
  4. Buy In with Quick Win – success evidence.
  5. Create team leader or change agent
  6. Consistent coaching & motivating people.
  7. Show consistently a strong commitment  from Top Management (Steering Comittee)
  8. Reward / Recognize people who make an improvement

Love Your Job


Love your job but not the company.

Frase dari kalimat diatas menjadi pembuka diskusi online di grup whatsapp. Kurang lebih artinya adalah "Cintailah apa yang yang engkau kerjakan. Jangan cintai tempatmu berkerja dan beraktivitas karena ada saatnya engkau tidak dibutuhkannya lagi".

Ada kalanya kita lebih berhati hati menyikapi quote tersebut. Karena bagaimana kita tidak mencintai perusahaan, sedangkan setiap bulannya perusahaan itu membantu kita. Kalau kita tidak cinta dengan perusahaan atau tempat kita bekerja, lantas kenapa harus ada yang bekerja selama bertahun-tahun. Kalau kita tidak suka sama depot, lalu kenapa kita harus makan tiap hari disana.

Didepak itu pasti, didepak karena umur, didepak karena kondisi perampingan, yang terpenting belajar dengan ikhlas untuk mencintai tempat kamu bekerja, tanpa ada mereka kita tidak akan bisa mengklaim pengalaman sekian tahun, pengalaman sekian abad. Dan yang mendepak kita belum tentu perusahaan, bisa komunitas juga, komunitas dalam artian pekerja yang ada di dalam perusahaan tersebut.

Lalu bagaimana kita bisa mencintai pekerjaan kita, jika setiap kita tiba di gerbang kantor penuh kegelisahan hati?

Mencintai pekerjaan adalah mencintai apa yang dikerjakan bukan lagi sebagai beban tanggung jawab, sering kali yang membuat orang yang mencintai pekerjaan adalah faktor lingkungan tempat kerja yang membuat mereka merasa nyaman. Bisa dari suasana kekeluargaannya, lokasinya, dan banyak faktor lainnya

Oleh karena itu cintai apa yang kita kerjakan, jika itu sudah ada maka produktifitas dan efisiensi akan tercipta, dimana pun kita berkerja atau berbisnis.

Terakhir yang tidak kalah penting adalah kita harus terus ikhtiar, istiqomah dan tetap ikhlas apapun hasilnya. Hal tersebut merupakan salah satu untuk menghadapi VUCA untuk menghadapi suasana kerja yang tidak kondusif, sedangkan kita sudah kadung mencintai kerjaan kita dan tempat kita bekerja.

Tuesday, September 10, 2019

RFID

#Online Discussion Group

Online Discussion Group dimulai dari artikel 6 Tips to Improve Inventory Accuracy yang di share di Whatsaap Group. Kemudian fokus kepada tools nomor 6, yaitu Use technology to your advantage, diantaranya menggunakan Bar coding technology dan RFID (radio frequency identification).

Beberapa member mengetahui vendor aplikatornya, namun masih sedikit untuk user experience-nya. Sehingga masih banyak yang masih kurang paham mengenai RFID ini.

Ada yang menggambarkan bahwa RFID ini mirip dengan gambaran bahwa setiap barang ada barcode, dimana dari barcode tersebut bisa di scan masuk ke sistem, dan kemudian juga bisa di tracking pergerakan barangnya.

Jika kita mengaplikasikan RFID, tentunya akan mempermudah saat stock opname. RFID ini sangat berguna untuk mengurangi proses input secara manual. Sehingga saat stock opname menggunakan RFID untuk mempercepat proses. RFID/ barcode sangat berguna untuk memudahkan input data inbound/outbound.

Beberapa perusahaan sudah memakai RFID, di DHL hampir semua project pakai RFID. Bukan hanya untuk stock opname saja, tapi juga untuk proses handling di warehouse. Karena langsung interface dengan WMS.

Di WMS ada pallet ID yang isinya jumlah crt dlm 1 pallet beserta informasi lainnya seperti expired date, berat, termasuk quantity, prod date, berat dan lain-lain. Di WMS ada modul inbound, putaway, replenishment, outbound, inventory.

Saat proses stock opname kita tetap harus menghitung aktual fisiknya. Jika sudah benar baru ditembak barcode/RFID nya. Begitu juga setiap hari ada cycle count dan reconcile antara fisik dan system jika tidak sesuai dilakukan adjustment.

RFID terdiri dari 2 macam, aktif dan pasif. Yang aktif pakai baterai dan memancarkan gelombang jadi bisa langsung otomatis menghitung stok dalam jangkauan frequency-nya. Kalau yang pasif jangkauannya lebih pendek, seperti yang dipakai di matahari, saat lewat gate baru terdeteksi.

Foto dari Cak Amik

Terdapat sharing mengenai implementasi RFID di Warehouse, beberapa tahun yang lalu sempat mendatangkan beberapa vendor RFID untuk rencana implementasi stock opname. Tapi banyak hal yang menjadi parameter dan resistensi. Hal ini terkait dengan model item barang, cara penempatan, material dan kerekatan.

Salah satu kendalanya adalah saat case-nya adalah barang-barang inventory logam dengan berbagai jenis di gudang PJB. RFID reader-nya menggunakan omni, yang secara data sheet jangkauan sekitar maksimal 30 m. Ternyata untuk median logam sangat banyak penghalang.

Dengan menggunakan RFID label tag biasa pasif. Akhirnya dicoba menggunakan RFID aktif yang harga minimal 300rb, baru bisa dibaca. Pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah semua item harus pakai RFID aktif? Sedangkan SKU-nya banyak, dan ada barang-barang kecil yang kadang out-nya cuman 1 item saja.

Barang yang terbuat dari metal, cair, atau kimia juga perlu diperhatikan. Terdapat pengalaman di salah satu perusahaan air minum kemasan, sempat ada masalah trial implementasi untuk tracking air dalam kemasan galon.

Jadi perlu ada kajian strategi dan POC dari masing-masing vendor dan juga perubahan SOP dalam handling.

Sharing lain mengenai RFID, terdapat member yang menceritakan tempat dia bekerja yang saat ini masih studi penerapan RFID untuk handling barang jadi kertas, mulai dari Good Receipt, WMS, sampai Good Issue. Dimana saat itu mengundang 2 vendor dan langsung POC, saat POC nya dihadapkan dengan 2 kondisi : 

1. Reader-nya mobile vs fixed, mobile reader trial di operator dan juga attach di forklift, sementara fixed kita trial di pemasangan gate yang dilalui barang. Hasilnya, ada plus minus. 

Mobile reader membuat fleksibitas kita dalam mengidentifikasi barang, sehingga peletakkan tidak begitu menjadi masalah. Tetapi, mobile reader ini semakin low bat, daya tangkapnya makin kurang. Match in frekuensi tangkap dengan jarak antar tag juga perlu diatur.

Sedangkan fixed reader, daya tangkap statis, karena pakai sumber kelistrikan. Tetapi, fleksibilitas peletakkan tag menjadi terbatas, karena salah posisi saja / tertutup bahan-bahan yang metal / lembab, besar potensi tag tidak terbaca.

2. Tag-nya mau dibuat closed loop vs open loop. Kalau closed loop lebih efisien karena kita bisa reuse, tapi lepas pasang tag membuat tambahan proses manual di dalam nya. Open loop dipandang lebih bisa mempercepat proses, cuma kita harus invest tag tiap bulan sejumlah pengeluaran barang.

Saturday, September 7, 2019

Bisnis Retail mulai Redup?


Diskusi online di whatsapp grup IPOMS Chapter Surabaya dimulai pada pukul 11:30 saat senior di Study Group, yaitu Fauzi Arif IPOMS yang sedang berjalan-jalan ke Giant Sidoarjo setelah hampir 1 tahun tidak pernah masuk kesana. Betapa kagetnya beliau saat melihat disana kosong sehingga seakan mulai memasuki lonceng kematian karena banyak rak yang kosong dan empty floor space.

Kondisi tersebut ditimpali oleh member yang lain bahwa plan disana memang mau tutup sehingga sepi pengunjung. Bahkan katanya sebagian barang-barang telah diangkut dan dipindah ke Giant yang terramai yaitu di Giant Rajawali.

Hal ini bisa dikarenakan beberapa hal, misalnya karena konsepnya yang telah kalah dengan Supermarket yang lain seperti Transmart yang telah mengadopsi konsep all in one.

Orang belanja ke supermarket seperti Giant & Transmart sekarang lebih banyak ke faktor entertainment shopping. Bukan untuk pemenuhan kebutuhan harian, karena di Indomaret & Alfamart ada program diskon JSM  (Jum'at-Sabtu-Minggu). Ini juga yang dapat reduce significantly pergerakan customer ke supermarket.

Jika unsur entertainment shopping sudah tidak mampu dipenuhi oleh supermarket tersebut, maka better tutup sekarang saja. Konsep entertainment shopping ini dipahami benar oleh specific supermarket seperti ACE Hardware atau IKEA, dimana customer benar-benar dipandang sebagai raja yang harus dilayani.

Sehingga dengan tutupnya Giant di Sidoarjo menyisakan pemain Hypermart dan Transmart di Sidoarjo, dan satu lagi Supermarket di Ciplaz. Memang diakui atau tidak bahwa dari segi jaringan, mungkin giant kalah bersaing dengan Hypermart dan Transmart.

Secara cost operation, bisa jadi Giant bisa lebih besar dari Hypermart. Padahal Giant memiliki banyak jaringan sehingga seharusnya bisa tekan cost operation. Hal ini dikarenakan belum ada signifikan dengan banyaknya jaringan dengan supermarket.

Dari sisi competitor, kompetitor giant salah satunya Transmart, yg menggunakan strategi dengan menambahkan fungsi ritel agar tidak hanya sekadar menjadi pusat belanja, tetapi juga wahana bermain anak-anak, restoran, cafe dan bioskop.

Sehingga saat bapak dan ibu males ke supermarket, anak dijadikan triger di arena bermain. Sehingga mau tidak mau ya jadi belanja. Atau kondisi lain jika istri belanja, suami bete nungguin, makanya dibuatkan food court. Kalau food court sudah membosankan, mungkin dibuatkan tempat pijat.

Selain faktor tersebut, juga dari segi inovasi layout, dimana jika dibandingkan dengan kompetitor masih jauh. Misalnya jika kita lihat di Surabaya setidaknya terdapat 3 outlet Giant yang rata rata memiliki gedung sendiri. Dibandingkan dengan pesaing yang lain nempel dengan pengelola.

Konsep entertaiment yang diterjemahkan pada layout misalnya adalah produk yang diletakkan di eskalator naik dan turun.

Selain dari pesaing yang sama-sama offline, tidak bisa dipungkiri market online seperti Bukalapak, Tokopedia dan lain-lain juga memberikan dampak besar. Sehingga yang market offline mesti melakukan turn around jika tidak ingin decline atau mati.

Market place yang kalah bersaing juga bisa dikarenakan terlalu banyak barang slow moving bahkan dead moving yang diinvestasikan dalam kulakannya. Kemudian keberatan di fix cost bangunan, dimana seharusnya 1 toko yang besar yang kelasnya seperti Giant Waru atau Rajawali, bisa menjadi toko sekaligus DC (Distribution Center) bagi toko-toko lain sekotanya.


Padahal sebenarnya Giant di Sidoarjo sebelumnya tidak pernah sepi pengunjung. Setidaknya ada 3 member IPOMS yang merasakan antrian kasir-nya di Giant yang terlalu panjang. Sehingga promo yang sering dipromokan dengan harga murah menjadi relatif. Contohnya adalah promo Minyak Goreng atau Pampers, dengan harapan customer akan sekalian belanja yang lain.

Tapi sering sekali karena sudah terlanjur ambil belanjaan, waktu mau antri akhirnya kereta belanjaan ditinggal begitu saja, karena malas antri di kasir. Padahal sebenarnya terdapat banyak meja banyak yang dibiarkan kosong tanpa ada pegawainya.

Kesan antrian kasir panjang sudah melekat ke Giant. Ini pain-nya customer yang tidak pernah diperhatikan oleh management Giant. Kalau mereka mau analisa data load antrian kasir, sebenarnya bisa memanfaatkan tenaga freelance dari SMK untuk jam-jam tertentu dan hari-hari tertentu.

Banyak yang tidak mau antri lama. Banyak yang pindah ke market lain, yang menyediakan tombol jika antrian sudah melebihi 5 orang bel berbunyi.

Konon infonya bahwa secara income dari selling tidak sepadan dengan cost operasional-nya, sehingga jumlah karyawan pun dipangkas, tapi hal tersebut tidak menyelesaikan masalah, bahkan tambah bikin masalah baru yaitu semakin panjangnya antrian karena minimnya store crew yang handle costumers.

Info dari orang dalam saat iseng bertanya, secara sales masih oke, tapi tenant ketika ekstent kontrak tidak ada menemukan titik temu nemu dealnya. Sehingga tumbang pada akhirnya. Info ini bisa jadi tidak valid, sehingga masih perlu diklarifikasi lagi.

Beberapa member berpendapat bahwa kondisi antrian panjang tersebut tidak terjadi tiap hari, antrian panjang terjadi biasanya pada tanggal-tanggal tertentu dan saat ada promo. Itu saja. Sedangkan hari biasa selama ini banyak yang sepi.

Sehingga setidaknya ada 2 penyebab, yaitu faktor External yaitu perubahan perilaku belanja konsumen, persaingan ketat pasar ritel, banyaknya pesaing yang dekat jarak tempuh dengan konsumen.

Sedangkan dari faktor Internal misalnya karena pemilihan lokasi yang kurang strategis berdasarkan perkembangan zaman, maka setiap gerai akan di evaluasi, terlambat menganalisa SWOT.

Sampai saat ini masih terdapat 119 gerai secara nasional masih beroperasi, dengan gerai-gerai yang penjualannya masih bagus. Dan bahkan group Hero ini mulai mengembangkan ritel farmasi (Guardian) dan ritel perabot RT (IKEA) dengan semangat zaman now.

Terdapat gagasan yang menarik, misalnya di surabaya ada 5 bagian, yaitu utara, selatan, barat, tengah dan timur, dibuatkan 1 tempat market yang besar, yang barangnya lengkap dan semua ada, dan yang kecil-kecil di tiap-tiap kelurahan yang barangnya fast moving, semua bisa didapatkan dari data sales, dan tetap jangan lupa untuk mengikuti perkembangan zaman.

Kondisi sekarang retail sedang  digoyang hebat. Kecuali retail atau tenant yang punya ciri khas kuat pasti bisa bertahan.

Friday, September 6, 2019

Metode SCM yang Ter-update

Thanks God It's Friday. Sehingga penat setelah 1 minggu kerja, menjadikan waktu yang tepat untuk ngobrol ringan. Diskusi online di whatsapp group pada hari Jumat dibuka pada pukul 15:08, saat ada member yang bertanya, "Apakah ada metode SCM yang ter-update?".

Pertanyaan tersebut dilanjutkan saat penanya sempat mengerjakan purchasing dengan peramalan dan MRP, sewaktu di Dept Produksi pakai waktu standart dan line balancing, serta di ekspedisi pakai DRP. Kira-kira metode itu semua masih relevan? Apakah ada yang lebih updates.


Beberapa senior menanggapi, bahwa metode diatas masih update. Ada beberapa enhancement untuk optimizing planning dan execution-nya. Misalnya aplikasi Advance Optimizer untuk menemukan balancing demand: supply, dan detail scheduling. Melakukan optimasi deployment alokasi supply lalu dilanjutkan dengan DRP.

Untuk proses supply chain, diperkenalkan S&OP untuk decision making proses, misalnya melibatkan manajemen decision untuk cover shortage/excess demand/capacity production/warehouse dengan investing capital untuk menambah resource.

Misalnya dengan invest new machine/equipment, extra space warehouse, recruite workforce untuk additional shift dsb. Yang selanjutnya setelah S&OP, ada IBP (Integrated Business Planning) melibatkan product management review, volume, dan financial overview dari awal sampai akhir, sehingga proses pengambilan keputusan oleh top manajemen lebih solid karena disertai end to end business information.

Saat ini di beberapa perusahaan sudah tidak menggunakan S&OP tapi IBP (integrated business planning).

Semua hal tersebut akan tergantung pada software atau ERP yang digunakan, karena biasanya sudah ter-setup di dalam ERP tersebut tinggal pilih optimizer rule yang dipilih atau bisa set up algorithma secara manual.

Monday, February 25, 2019

Survey Kepuasan - IPOMS Surabaya Study Group


Survey Kepuasan - IPOMS Surabaya Study Group

Bulan April 2019 depan, IPOMS Surabaya Study Group akan berusia 9 tahun, kami dari Pengurus sedang melakukan evaluasi program Study Group dengan mengumpulkan informasi dan penjajagan informasi untuk mengetahui dan untuk memutuskan program kedepan.

Untuk itu kami membutuhkan masukan umpan balik dari semua member untuk memutuskan kebijakan mana yang akan diambil untuk IPOMS Surabaya Study Group.

Silahkan berpartisipasi dengan mengisi survey dengan link sbb:
https://drive.google.com/open?id=1oi3uLe2VympxAfQN5EUdrTRRGVWQ6w1MB0wJEAGI2qQ


#study group
#supply chain indonesia

Sunday, December 31, 2017

Key Performance Indikator

Malam menjelang pergantian tahun dari tahun 2017 ke tahun baru 2018, dalam whatsapp grup Surabaya Study Group cukup ramai membahas topik yang cukup hangat dan seru yaitu KPI. apa dan bagaimana pembahasannya?

Mari kita simak


Sebelum membahas inti topik dari KPI, maka ada baiknya yang dibahas adalah BSC, baru kemudian turunannya adalah KPI dan activity plan.

BSC jika sudah dijalankan biasanya tahun-tahun berikutnya hanya review dan finetune terhadap lingkungan bisnis, sedangkan yang berubah adalah metric dan target.

BSC bisa dibagi menjadi 4, yaitu:
People,
Process,
Quality dan
Cost/Finance

KPI = key performance indikator, atau indikator performa kinerja

KPI bisa di design dari Top Management.

KPI adalah suatu metode untuk mengukur sejauh mana keberhasilan atau kegagalan dari apa yang kita lakukan.

KPI adalah titik yang harus dicapai individu untuk melaksanakan jobnya.

KPI adalah salah satu tools untuk bahan evalusasi dari kinerja yang sudah dilakukan.

KPI adalah parameter kerja yang dapat digunakan untuk menentukan kita dapat bonus kinerja atau tidak di akhir tahun.

KPI adalah tolak ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian hasil kinerja terhadap sasaran strategi yang telah ditentukan

KPI as guideline to conquer company goals.

KPI adalah alat ukur  sebelum dan sesudah kegiatan dilakukan. Keberhasilan ditentukan dengan perbandingan hasil ukur tersebut. Ada yang semakin naik yang artinya berhasil, dan juga ada yang semakin turun yang artinya berhasil.

Keberhasilan juga bisa diukur berdasarkan target yang ditetapkan di awal kegiatan. Ketercapaian target setting menentukan penilaian berhasil atau tidaknya.

Secara garis besar KPI untuk Supply Chain Organization dibagi menjadi 2, yaitu primary KPI dan secondari KPI. Primary KPI is must available yang terdiri dari 3, yaitu :
pertama Delivery Reliability/Customer Order Fulfillment,
kedua Supply Chain Cost,
ketiga Supply Chain Responsiveness.

KPI masih belum masuk ke bab metode, karena KPI baru merupakan indikator kesuksesan saja dari variabel-variabel target yang ditentukan.

Setelah itu kita buat WIG, lead measure, score board dan irama akuntabilitas, baru kemudian kita targetkan KPI kita.

Saturday, December 23, 2017

Bitcoin

Saat liburan menjelang hari raya Natal tahun 2017 dan liburan Tahun Baru 2018, di whatsapp grup Surabaya Study Group sedang ramai pembicaraan mengenai Bitcoin, cukup seru. Berikut adalah rangkuman dan kompilasi dari diskusi online tersebut.

Bitcoin adalah uang virtual yang full diterbitkan swasta, bukan negara tertentu. Bitcoin tanpa pengawas dari negara ataupun instasi manapun. Sehingga dapat menimbulkan bahaya karena nilainya tidak riil seperti bubble atau gelembung dan berakibat bisa pecah dalam semalam.

Bitcoin bisa berfungsi sebagai alat pembayaran, tapi tidak mempunyai wujud fisik seperti lembaran uang kertas ataupun koin. Bitcoin juga dapat diuangkan ke dalam mata uang resmi/konvensional.

Bitcoin merupakan terjemahan dari sebuah konsep bernama cryptocurrency yang pertama kali dicetuskan oleh Wei Dai pada tahun 1998. Konsep ini menekankan pada sistem kendali yang mengatur penciptaaan dan juga transaksinya, di mana algoritma kriptografi mengatur hanya pemilik Bitcoin-lah yang bisa menggunakan uang tersebut, masing-masing dari pemilik Bitcoin berperan sebagai pengguna sekaligus pengatur mata uang, bukan oleh pemerintah atau lembaga tertentu.

Mata uang Bitcoin pertama diterbitkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009. Namun setahun kemudian ia meninggalkan proyek Bitcoin tanpa banyak mengungkap siapa dirinya. Tapi pengembangan Bitcoin terus berjalan dengan munculnya pengembang-pengembang baru dalam komunitasnya, bahkan aplikasinya yang berbasis open source dapat diunduh oleh pengembang yang ingin mereview kembali barisan kode di dalamnya atau membuat sendiri aplikasi Bitcoin versi mereka.

Bitcoin menggunakan jaringan peer-to-peer tanpa penyimpanan terpusat, yang artinya ia dapat ditransfer ke manapun selama ada jaringan internet. Mata uang yang dimiliki oleh seseorang nantinya akan disimpan di suatu aplikasi bernama Bitcoin Wallet. Jadi, Anda tidak akan menerima uang dalam wujud fisik apapun selain berupa aplikasi di gadget Anda. Aplikasi ini harus terpasang di komputer, tablet atau smartphone penerima dan pengirim.

Bitcoin ibarat ikan di laut, setelah kita menangkap ikan, selanjutnya kita bisa panen atau juga bisa dijual atau di-rupiah-kan atau juga kadang bisa jadi alat tukar langsung.

Seperti ikan di laut yang mempunyai banyak jenis, begitu pula cryptocoin ini, banyak jenis mata uang virtual, salah satunya adalah bitcoin, sedangkan yang lain juga ada xrp, xlt dan sebagainya.

Untuk memperoleh Bitcoin, kita bisa menambang sendiri, mirip dengan sebagai nelayan di laut. Atau kita bisa jadi trader yang berspekulasi. Saat harga ikan turun kita borong dan jual di kota lain.

Bit pada bitcoin merefer ke komputer, jadi koin dari Bitcoin digenerate oleh komputer

Mata uang virtual ini tidak jelas supply dan demandnya.

Total market crypto sampai hari ini 7.26 Quad, dan volume perdangan dalam 24 jam hampir 600 trilliun, hal ini merupakan menjadi hal yang gurih bagi sebagian orang, buat investasi atau hal yang lain.

Dalam hal politik, mata uang virtual ini dapat menjatuhkan sebuah negara dengan crypto currency tersebut.

Bitcoin juga dapat diibaratkan seperti tanah, yaitu dimana tanah tidak bisa bertambah kecuali ada reklamasi. Sehingga tiap bulan harganya bisa meningkat karena yang membutuhkan tanah semakin bertambah. Tidak ada seorangpun yang bisa mengatur harganya, murni ditentukan oleh semakin banyak peminat maka semakin tinggi harganya.

Saat ini lebih dari 100 aset digital berbasiskan blockchain yang sudah dipublikasikan dan diperjualbelikan. Sehingga Bitcoin pada intinya sebetulnya hanya perusahaan teknologi startup yang menjual teknologi berbasis blockchain.

Dengan solusi teknologi blockchain yang dipunya, dipercaya bahwa mereka akan mampu melakukan inovasi terhadap kebuntuan teknologi informasi saat ini

Wednesday, December 13, 2017

KPI

Berawal dari pertanyaan di pagi hari menjelang pukul 7 pagi hari, seorang senior di Surabaya Study Group melemparkan pertanyaan di whatsapp group. Dan akhirnya bergulirlah diskusi online mengenai KPI atau Key Performance Indicator.

[12/13/2017, 6:43 AM] Ada yg bisa share penerapan KPI ditempat kerja rekan2 sekalian..

KPI ditempat kerja, terkadang terlihat simple, tapi bisa menjadi membingungkan. KPI merupakan singkatan dari Key Perfomance Indicator, yaitu merupakan raport kita saat bekerja.

Visi dan tujuan tiap organisasi berbeda-beda. Sehingga tentunya parameter ukur-nya juga berbeda..

Setiap kita buat item buat agar menjadi terukur dan mampu dicapai
Contoh KPI Procurement
1. Setiap transaksi diatas 1 juta keatas minimal 3 pembanding.
Kolom nilai total 15, nilai 15 jika tercapai 100% nilai 10 jika 2 pembanding 70 % nilai 5 jika 1 pembanding 30 %

Agar KPI bisa terukur dan terarah, maka bisa memakai metode SMART. Harus dibuat terukur dulu. Bisa akhir tahun, akhir bulan atau tanggal tertentu. Ketika target terukur (misalkan tanggal tertentu) sudah dibuat maka tidak ada alasan lagi komplain.

Sebelum membuat KPI harus diketahui dulu target dari TOP Management, lalu di selaraskan KPI per masing - masing department.

Contoh KPI untuk department Engineering :

1.Total Breakdown (Max Breakdown Machine 1 jam/Mesin/ seminggu)
2. Response Time ( Max 3 jam/ case)

Contoh KPI di Warehouse
1. Di gudang kita terima barang
2. Saat terima kita masukkan ke sistem, misalnya excel atau SAP
3. Memeriksa penerimaan barang sesuai spec
4. Memasukkan atau received atau Good Received ( GR ) secepatnyA

Contoh KPI lainnya misalnya
1. GR barang maksimum 1 x 24 jam dengan kuantiti sesuai jumlah
Nilai seumpama total nilai 100 dari sePuluh item KPI kita bagi bagi sendiri.menurut kritikal
Gr barang maksimum 1 x 24 jam sesuai dengan jumlah pengiriman nilai 15 point  kolom berikutnya adalah kolom pencapaian di akhir bulan berapa kalau kecapai di kolom keterangan di tulis range pencapaian
Jika sesuai kasih nilai 15 d3ngan asumsi 100 %, kakau tak kecapai nilai 0 dengan asumsi pencapaian 0 %

Thursday, November 9, 2017

Cost Saving di Logistik

Sharing terkait strategi cost saving di logistic

Terkait cost saving kita harus bisa menjabarkan struktur biaya di logistic. Karena cost saving bisa dari banyak sisi. Salah satunya misalnya untuk reverse logistic.

Cost Saving di logistik bisa berbagai bentuk:

Untuk Delivery :
  1. Automatic route mapping by system, GPS untuk mengurangi beban manusia untuk telpon, bisa menggunakan aplikasi yang lain untuk check in apabila mereka sudah tiba, 
  2. Digital pod utk verifikasi pengiriman ke customer lebih cepat
  3. Memaksimalkan utilisasi armada utk kirim dan pick up barang
  4. Memakai TMS aja yg bisa tracking, route mapping, digital pod, online. 

Untuk warehouse:
  1. Menambah tools utk mengurangi beban manusia. Contoh : kalau gak ada loading dock, beli mobile loading ramp, bongkar lebih cepat. 
  2. Layout gudang juga dapat mengurangi movement yg sporadic. jd dibuat berurutan. 
  3. WMS yang bagus dapat mengatur picking list urut sesuai dengan alur gudang / location barang
  4. dan lain-lain

Friday, November 3, 2017

Rolling Forecast

Mohon infonya apakah dlm peserta group ppic yg saat ini jln kan rolling forecast  inquiry to cash?

Begitulah isi pertanyaan di whatsapp group pada waktu siang menjelang istirahat makan siang, mengawali diskusi seru mengenai Rolling Forecast. Mari kita lihat rangkuman dari diskusi online via whatsapp group berikut.

Rollling forecast biasanya dalam terminologi finance adalah seperti proses budgeting yang dilakukan quarterly. Normalnya budget dilakukan 1 x setahun, namun karena kondisi makro dan mikro berubah cukup cepat, maka perusahaan tidak mau mengunakan asumsi tahunan yang mungkin sudah lewat, seperti currency rate, harga commodity dsb. Sehingga perhitungan quartal perlu dilakukan

Bisa dibayangkan betapa beratnya, proses budgeting 5x dalam setahun, budget sendiri ditambah 4x rolling forecast

Rolling forecast juga digunakan untuk sales order forecast ke depan dengan juga melihat realisasi beberapa bulan yang lalu.

Data ini di dapat dari data project dimana sales manager di semua area yang ada kemungkinan dapat ordernya.

Dalam hal istilah, digunakan kata "rolling", karena periodenya pendek

Rolling forecast order yang dulu dilakukan per 3 bulan, 1 bulan fix, 2 bulan tentatif. Sekarang dikembangkan lagi metode baru, inguiry to cash yg mengakomodir pembagian forecast berdasarkan class buyer.

Friday, October 20, 2017

Value Chain Porter Analysis

Di tengah-tengah memepersiapkan acara Surabaya Study Group ke-32, terdapat bahasan menarik mengenai value chain porter analysis.


Apa itu value chain porter analysis?

Pada gambar Porter's Value Chain Model diatas, paling kanan adalah profit center, jadi value chain harus dapat menghasilkan profit. Jika kita ingin profit dirubah, maka kita perlu melihat sisi sebelah kiri: apa yg mesti kita ubah?

Sisi sebelah kiri adalah biaya tiap aktifitas. Biaya mana yang mesti kita kurangi jika itu merupakan cost centre dan profit yang mesti kita kembangkan jika itu merupakan profit center. Dalam hal ini untuk cost centre, maka biaya harus dikurangi agar profit bertambah.

Misalnya faktor inbound logistic. Inbound logistic meliputi incoming material, inspection dan warehousing.

Kemudian untuk faktor service misalnya, jika strateginya diarahkan sebagai cost centre, maka dia akan melayani keperluan perusahaan. Tapi service juga dapat diubah menjadi profit centre misalnya dengan melayani service untuk publik sehingga perusahaan dapat memiliki pemasukan dari service tersebut.

Untuk faktor operations cukup jelas, yaitu merupakan sebuah cost dalam profit and loss.


Sebagai study case mari kita lihat value chain dari Wal-mart.

Dari gambar Wal-Mart Value Chain diatas, faktor yang berada dibawah merupakan cost center. Hal tersebut dapat digunakan sebagai acuan aktifitas untuk cost reduction atau boost revenue. Sedangkan untuk profit centre akan membentuk value chain baru. Namun analisa ditingkat korporasi akan jadi satu.

Jika cost centre semakin berkurang maka biaya akan semakin berkurang asalkan tidak menurunkan revenue. Profit dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Contoh, misalnya delivery tracking system untuk internal, bisa juga dikomersialkan untuk perusahaan lain.

Asalkan tidak mengurangi omzet karena resiko sharing berarti memberikan kesempatan yang lain untuk mempunyai daya jual tambah.

Tuesday, August 22, 2017

5S, Implementasi dan Problem

Apakah 5S effective dalam membangun sistem pada suatu organisasi?

Setelah Senin malam terjadi diskusi seru di Grup Whatsapp dari Surabaya Study Group, hari Selasa malam dibuka diskusi lanjutan dengan topik yang berbeda. Kali ini dibuka dengan tema 5S dan diawali dengan pertanyaan Apakah 5S effective dalam membangun sistem pada suatu organisasi?

Sebelum kita menuju intisarinya, kita jabarkan dulu apa 5S itu sendiri.

5S merupakan kepanjangan dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Sitsuke. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi 5P, yaitu Pemilahan, Penataan, Pembersihan, Perawatan dan Pembiasaan. Dan tak jarang orang menyebutkan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin.

Dalam fase Rawat itu memerlukan kedisiplinan dan kemauan yang tinggi, karena fase yang ke-4 (Rawat) kita perlu mengubah budaya team. 5S ini bisa dibilang salah satu landasan fundamental dalam membangun company culture.

Secara keseluruhan penerapan 5R ini memang harus diawali dengan komitmen dari management. Management harus menjadi ing ngarso sung tulodho. Atau istilah lainnya adalah dengan pendekatan Top to Bottom. Tidak bisa atau sulit jika menggunakan pendekatan Bottom to Top. Terutama misalnya dalam hal kebijakan membuang yang tidak diperlukan.


Lalu bagaimana strategi membuat manajemen menjadi komit?
Sebelum mengarah kesana, kita ambil case dalam implemetasi 5S.

Case 1 : Dilema mengembalikan tool ke tempat asal karena memakan waktu, sehingga pada akhirnya tool tersebut ditaruh di dekat kita, namun kemudian lupa, sehingga tool tersebut hilang sementara.

Case 2 : Harusnya lemari kapasitas bisa 100%, tapi setelah impementasi 5R utilitasnya menjadi hanya 15%

Dari 2 case diatas tercermin mengeksekusi 5S tanpa assesment, hanya mengetahui dari definisi langsung di implemented.


Untuk membahas 5R, kita mulai dari R pertama atau R 1 (Ringkas).

Sebuah fenomena yang selalu dipandang sebagai sebelah mata, karena asumsi nanti akan dipakai lagi. Namun seiring berjalannya waktu, secara functional sudah tidak optimal. Sehingga menyebabkan pergeseran fungsi menjadi abu-abu.

Contoh , terdapat sebuah dongkrak mesin. Dongkrak tersebut dibeli dengan tujuan untuk memindahkan mesin saat relayout. Harganya cukup mahal untuk penggunaan yang frekuensinya tidak terlalu sering.

Dari sisi Dept. Purchasing proses pembeliannya memakan waktu yang lama. Dan dari sisi Dept. Finance asset tersebut merupakan asset yang sudah dimiliki oleh perusahaan, maka harus dirawat dengan baik.

Namun itu semua hanya asumsi belaka dari kedua departemen tersebut. Actual di produksi, dongkrak diletakan begitu saja di tempat tools tanpa ada pemeliharaan yang baik. Lalu seiring berjalannya waktu, ada informasi bahwa bos dari mother company akan visit dan akan genba ke semua departemen.

Dibagian produksi melakukan proses 5S dan ketemulah dongkrak yang sudah usang. Statusnya disini masih menggantung. Secara fungsional sudah tidak bisa, karena ada satu item yg berkarat, niatnya ingin dibersihkan, namun bautnya patah di dalam.


Disini terjadi diskusi yg menarik. Antara mau dibuang atau di-repair?

Dari Dept. Purchasing, kita harusnya check dulu rent or buy analysis, tetapi jika sudah terlanjur kita check "nilai buku"nya, jika masih menguntungkan maka kita perbaiki.

Namun yang jadi masalah, ketika nilai buku tidak bersahabat dengan nilai fungsi, otomatis jadinya muncul istilah "Eman-Eman". Dengan muncul rasa "eman-eman" kemudian disusul dan muncul "Nyumpeki" alias bikin sumpek.


Salah satu pendapat yang dilontarkan adalah dalam proses R 1, yaitu Ringkas (Pemilahan), ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu :
Step 1 : Membuang yang tidak diperlukan, bila abu abu
Step 2 : Mengidentifikasi barang yang tidak diperlukan
Step 3 : Melaksanakan pembersihan besar dan
Step 4 : Meneliti penyebab

Semua case apapun itu termasuk alat besar adalah hanya sekedar "objek penderita". Sebelum nantinya akan terjadi pergeseran makna, maka prinsip ringkas membedakan antara yang tidak diperlukan serta membuangnya. Dalam hal ini dibuatlah managemen stratifikasi dan menangani masalah. Secara actual penempatan barang yang masuk dalam stratifikasi dimasukan dalam "Label merah" beserta timeline dan project sheet nilai barang dihitung untuk FA.

Sehingga Aktifitas R 1 adalah
1. Menghilangkan yang tidak perlu
2. Menangani penyebab kotor
3. Perbaikan dan pemilahan berdasarkan asasnya.

Pendapat yang lain adalah sebagai berikut :
Step 1 : Bisa masuk ke kategori barang yang intensitasnya jarang dipakai.  
Step 2 : Dimensi besar, bisa dialokasikan ke gudang dengan tempat labeling terpisah khusus barang barang yang intensitas pemakaiannya jarang.  
Step 3 : Kenali penyebab bisa dengan metode 5 W + 1 H.     
Step 4: Dongkrak jangan dibuang dulu tapi bisa dipindahkan ke tempat misal ke gudang khusus dengan tempat khusus  dengan dikasih labeling agar mudah dicari.


Dalam menilai barang dengan kategori dibuang sayang ini, tim Aset management dan bagian patroli 5R dapat berkoordinasi dan menilai dari segi aset dan jika masih bisa diperbaiki maka lanjut, tapi jika dinilai tidak bisa, maka bisa dijadikan pertimbangan bagi management agar bisa dimasukkan dalam kategori scrap.


(bersambung)

Monday, August 21, 2017

Sisi Lain dari Inovasi

Kali ini Online Discussion Groups merangkum dari diskusi Surabaya Study Group via Whatsapp Grup yang mengangkat tema "Another kind of innovation by Amazon.com". Kita bisa melihat bukti dari esensi sebuah inovasi ketika sebuah ide tidak terbentur oleh variable apapun.

Sehubungan dengan lebih meningkatkan efisiensi dalam Inventory Management, Amazon menggunakan robot-robot di dalam aktivitas gudangnya, yang teknologinya diperoleh dari akuisisi perusahaan startup bernama Kiva di tahun 2012.

Ini sisi positive inovasi Inventory Management dari Amazon adalah siklus yang pada umumnya membutuhkan 60 menit ketika staf gudang secara manual memilah tumpukan barang, memilih produk, mengemas, dan mengirimnya. Sekarang dengan adanya robot, mereka dapat menangani pekerjaan yang sama dalam waktu 15 menit saja. Robot-robot tersebut tidak hanya lebih efisien namun juga memakai ruang yang lebih sedikit daripada rekan mereka (manusia). Dan disain gudang dapat dimodifikasi untuk mendapatkan ruang yang lebih luas.


Terkait dengan inovasi amazon.com di atas, menurut Deutsche Bank, operating cost amazon.com mengalami penurunan sebesar 20% atau setara USD 22 juta di setiap Warehouse-nya. So, at the end is about money .

Namun dari sisi negativenya akan semakin banyak manusia pengangguran.

Dari sisi negative lainnya, umumnya robot belum tentu bisa beradaptasi dengan perubahan. Misal tidak ada ID pada product terkait maka akan muncul error messages.


Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana peran SDM dalam menghadapi era digital?

System digital memang butuh bagi para pengusaha, namun keseimbangan mengelola SDM juga penting bagi pemerintah, guna menyeimbangkan tenaga kerja. Untuk itu peran SDM cukup penting untuk menjadi operator digital yang mumpuni dan bijak.

Robot secanggih apapun teknologi yang digunakan, tetap saja itu semua hasil kolaborasi otak manusia, dan penggunanya juga manusia, serta kembali semua ke manusianya.


Lalu bagaimana menjembatani SDM dengan stakeholders?

Bagi perusahaan besar yang have no issue dengan modal mungkin tidak masalah apabila mereka harus meng-automation-kan proses produksi mereka, walaupun dengan harus mengurangi human resource mereka sehubungan dengan pekerjaan yang telah diambil alih oleh robot.

Namun demikian, pemanfaatan automation ini bukannya tanpa downside. Paling tidak robot dan segala perangkat pendukungnya harus dimonitor serta di-maintain. Tentunya dibutuhkan sumberdaya yang handal dan ahli serta specialist di bidangnya, yang pastinya bergaji sangat besar dibandingkan pekerja-pekerja sebelumnya.

Memang automatisasi terlihat gurih, namun hal tersebut terjadi jika kita mampu men-setup dengan benar. Tapi bagi produsen yang hanya memikirkan laba usahanya yang sudah menjadi target bagaimana?. Karena hitungan hari dan jam tetap sama dari tahun ke tahun, bahkan mungkin dari abad ke abad.

Maka perlu pembelajaran atau study-study mengenai pemahaman teknologi dan kemanusiaan.


Pertanyaannya selanjutnya adalah siapa yang akan berperan dalam hal itu? Apakah pembuat teknologi? pembuat kebijakan.? atau pengguna teknologi?

Sisi kemanusian memang lebih berharga daripada teknologi yang belum tentu menguntungkan manusia. Ada hal yang masih tidak bisa tergantikan manusia, misalnya saja contoh sederhana adalah semahal-mahalnya alat namun tetap saja yang melakukan setting adalah manusia.

Bahkan dalam hal ini boleh dibilang manusia masih lebih flexible karena dalam bekerja masih bisa menyesuaikan keadaan. Dan sebagai penutup diskusi dan artikel ini, perlu kita ingat bahwa teknologi apapun itu adalah asisten manusia.

Tuesday, August 15, 2017

Aktiva tidak Berwujud

Kali ada yang dibahas dengan topik yang agak jauh melenceng dari topik biasanya, yaitu seputar Akuntansi, yaitu mengenai bagaimana teknik menghitung aktiva tidak berwujud.

Ada beberapa metode dalam menghitungnya, garis lurus dan saldo menurun. Yang paling mudah diaplikasikan adal metode garis lurus. Dimana kita menentukan masa manfaat dari objek aktiva tersebut.

Misalnya lisensi produk kita beli sebesar 300 juta dan ditaksir masa manfaat 10 tahun, maka pertahun dibebankan sebesar 30 juta. Dengan jurnal beban amortisasi pada debet aset tak berwujud sebelah kredit.

Bila kita membeli di tengah tahun maka dari 30 juta dibagi 12 bulan dan dikali bulan berjalan.


Lalu bagaimana untuk aset tidak berwujud seperti good will, merk dagang & hak paten, bagaimana pula teknik menghitungnya?

Dalam sistem perpajakan di negara kita menganut 4 kelompok:
  1. 4 tahun
  2. 8 tahun
  3. 16 tahun
  4. 20 tahun
Aset tidak berwujud seperti good will atau merk dagang masa manfaat ditetapkan dari perkiraan saja, biasanya terkait dengan rasio financial yang diinginkan. Biasanya perusahaan memiliki kebijakan masing-masing dalam menafsirkan sesuai dengan psak yang diterapkan. Karena banyak faktor yg di pertimbangkan dalam menentukan masa manfaat.

Jika ingin performance rasio keuangannya bagus, bisa dibuat masa manfaatnya lebih panjang, sehingga profit perusahaan lebih menonjol.

Rasio keuangan yang diinginkan ini adalah rasio keuangan yang tergolong rasio profitabilitas, terkadang terkait beberapa pertimbangan, perusahaan ada yang ingin laba tinggi misalnya ingin mencari investor, ada juga yang ingin laba rendah misalnya untuk menghindari pajak.

Profit disini yang dimaksud adalah net profit margin, jika masa manfaat pendek otomatis biaya akan bertambah sehingga menekan profit, sebaliknya kalau masa manfaat panjang maka biaya kecil sehingga profit lebih besar.

Biasanya umur ekonomis tidak melebihi 20 tahun, jika masih ada nilai sisa biasanya perlu dilakukan audit ulang.

Monday, August 7, 2017

First Expired First Out

Masih berlanjut diskusi tentang manajemen persediaan, namun kali ini yang dibahas adalah mengenai manajemen persediaan Restoran. Yang menjadi critical poin di restoran adalah banyak material yang cepat masa kadaluarsanya.

Sehingga perlu mengatur EOQ dan mengatur manajemen persediaan bahan baku masakan. Persediaan dari bahan baku di restoran mempunyai self life tiap-tiap product. Sehingga setiap hari perlu review forecast dengan tujuan agar jangan sampai ada product expired atau jangan sampai kehabisan barang.

Karena haram jika sampai ada menu yg sold out. Oleh karena itu tiap hari perlu cek FEFO (First expired first out) dari setiap product.

Dan yang tak kalah penting adalah mengenai forecast, karena jika forecast-nya meleset, bisa-bisa banyak bahan baku yang terbuang. Sehingga harus tiap hari reviewnya. Bahkan kadang tengah hari sekitar jam 1 siang review.

Saturday, August 5, 2017

Pengkodean Stok dalam Manajemen Persediaan

Pembahasan di grup Whatsapp Surabaya Study Group masih hangat tentang manajemen persediaan & pergudangan. Dalam manajemen pergudangan, saat ada material masuk kemudian diterima, untuk memudahkan pengawasan misalnya ketika material tersebut stoknya menipis atau masih banyak, maka perlu adanya aplikasi yang memudahkan pencatatan barang keluar masuk material.

Dengan aplikasi ini maka pencatatan stok akan menjadi lebih baik daripada dengan metode pencatatan manual dnegan kartu stok barang, karena bisa secara otomatis dan sudah terintegrasi ke departemen lain, jika ada material yg diterima & jika material yang digunakan.

Untuk aplikasi system yg terintegrasi dengan Dept lain, ada beberapa yaitu misalnya yang familiar digunakan saat ini seperti ERP-SAP, AX system. System ERP yang lain misalnya SAP, Infor, MFGpro.

Sedangkan untuk kode stok atau sistem penamaan material bisa dilakukan dengan 3 pendekatan, yaitu :
Pertama, menggunakan model alfabetik
Kedua, berdasarkan dari kharakteristik barang misalnya fast moving / slow moving
Ketiga, dari model jenis material (contoh = valves, fittings, bearing, rubber, Gasket, dsb)

Beberapa perusahaan lebih menggunakan pendekatan ketiga yaitu dari jenis material, sehingga dari jenis barang akan tercermin dari item numbernya atau kode stoknya. Misal bahan baku item numbernya BB0001 untuk gula pasir, sedangkan untuk bahan kemas item number nya BK0001 untuk box.

Selain dapat mengenali jenis material, pengkodean yang baik bisa mempercepat pencarian kode barang dan mencerminkan barang yang dimaksud untuk menghindari double entry master barang oleh operator.

Pengkodean juga ditujukan untuk mempermudah pengecekan BOM ataupun tipe, tempat penyimpanan barang. Sehingga pengkodean barang di sebagian perusahaan ada juga yang rahasia agar BOM tidak bisa dibaca oleh perusahaan kompetitor.

Kode barang dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok besar yaitu speak code dan non speak code. Speak code bermakna bahwa kode itu beraturan dan bisa memberikan informasi langsung pada misalnya TC0100010 berarti Tube copper diameter 100 mm dan tebal 1.0 mm, jika ada TC200020.

Di tempat lain pengkodean dikelompokkan berdasarkankan group barang dengan suppliernya, misal VR001, artinya dari supplier V group retail.

Pengelompokan barang juga bisa berdasarkan product-line misal finish good, raw-material dan sparepart. Kemudian dibuat group barang, jika diperlukan pake sub-group baru kemudian kode barang yang mencerminkan karakteristik barang misal ukuran panjang. Lalu di kode barang ditempel atribut fast/slow moving, stok/non-stok, ABC class, berat, max-min stok.

ABC class adalah Activity Based Costing, yaitu yang merujuk pada peng-kategori-an inventory dari valuenya atau nilai persediaan. Sehingga Kepala Gudang akan memberikan perhatian lebih untuk kelas A karena valuenya tinggi.

Related Posts