Belajar dan Ikut Serta Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Meningkatkan Keunggulan Bersaing Industri Indonesia
Sunday, August 2, 2020
Circular Economy
Indonesia memiliki segudang permasalahan lingkungan yang terus-menerus menghantui pembangunan kita, salah satunya soal sampah. Model linear economy yang bersifat take – make – dispose yang kita anut sejak beberapa dekade terakhir telah menampakkan konsekuensi yang tidak menyenangkan saat ini. Beberapa tahun terakhir, para peneliti lingkungan dan ekonomi memandang konsep ini sudah tidak sesuai dan harus mulai ditinggalkan serta beralih ke konsep lain.
Pada 2017, the British Standards Institution (BSI) meluncurkan framework Circular Economy yang pertama yaitu BS 8001:2017 yang digunakan oleh berbagai organisasi. Selanjutnya pada 2018, World Economic Forum, World Resources Institute dan lebih dari 40 partner meluncurkan Platform for Accelerating the Circular Economy (PACE). 3 Fokus utamanya yaitu mengembangkan model keuangan campuran untuk proyek-proyek circular economy, terutama di negara-negara berkembang; menciptakan kerangka kerja serta kebijakan untuk mengatasi hambatan spesifik untuk memajukan circular economy; dan mempromosikan kemitraan publik dan swasta untuk tujuan ini.
Indonesia sendiri telah menerapkan prinsip circular economy, ditandai dengan telah diselenggarakannya Indonesia Circular Economy Forum yang ketiga kalinya pada November 2019 di Jakarta. Keberhasilan penerapan konsep circular economy dapat membantu pembuatan produk dan layanan menggunakan inovasi yang membantu memaksimalkan efisiensi penggunaan sumber daya. Hal ini secara efektif diharapkan akan meningkatkan daya saing, yang dapat membawa peluang pertumbuhan di tingkat global, senilai USD 4,5 triliun pada tahun 2030 (sumber: CEO Guide to the Circular Economy, WBCSD).
Selain itu, circular economy juga dapat membantu mengurangi emisi karbon, yang akan meningkatkan kondisi kehidupan di seluruh dunia dan mewujudkan Kesepakatan Paris serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Dalam circular economy, tidak ada lagi sampah. Perbedaan utama linear economy dengan circular economy dapat dilihat pada diagram di atas.
Toronto, bermitra dengan Enbridge Gas Inc, merupakan salah satu kota yang berhasil menerapkan konsep circular economy dan mendukung program kota Toronto yaitu Long Term Waste Management Strategy, dengan mengubah sampah organik bekas makanan menjadi renewable natural gas (RNG) dan menggunakannya untuk kendaraan truk. Dilansir CBC News, dengan inovasinya dalam proyek RNG, kota ini dikenal secara internasional dan mendapatkan “Energy Vision Leadership Award”.
Inovasi apa yang akan dilakukan Indonesia?
Sumber :
https://www.pertamina.com/id/news-room/market-insight/circular-economy
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Related Posts
-
“Saya tidak bisa membuat karyawan disini berinovasi!”, begitu kata seorang pimpinan sebuah perusahaan besar di Indonesia pada saya. “Padahal...
-
OpinionDay #20 Oleh : Taufan Yanuar (SSG-007) Hari ini Surabaya ada gawe ITS Run 5.9 dalam rangka Dies Natalis ke 59 dengan mengangkat te...
-
Mohon infonya apakah dlm peserta group ppic yg saat ini jln kan rolling forecast inquiry to cash? Begitulah isi pertanyaan di whatsapp gr...
-
Materi Study Group ke-35 yang diadakan di kota Nganjuk, diawali oleh narasumber Titah Laksamana , (Co Founder PT. Mitra Usaha Hortind...
-
Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2013/04/21/dari-kelas-diskusi-ssg Dari Kelas Diskusi SSG Minggu, 21 April 2013 19:16 WIB | ...

No comments:
Post a Comment