Wednesday, October 31, 2018

Study Group 33 : Business Process Improvement Introduction

Proses bisnis merupakan salah satu faktor penting dalam membangun keunggulan bersaing perusahaan, sehingga Kaplan dan Norton menempatkannya sebagai salah satu perspektif dalam Balanced Scorecard yang mereka kembangkan.

Untuk terus unggul, organisasi senantiasa melihat dan memperbaiki proses bisnisnya secara berkesinambungan sesuai dengan tuntutan persaingan dan visi perusahaan.

Dalam diskusi ini, kita akan belajar bersama tentang apa itu proses bisnis, bagaimana membangunnya dan alat-alat apa yang bisa digunakan untuk membantu kita dalam melakukan Business Process Improvement.


IPOMS Surabaya mempersembahkan :

STUDY GROUP ke-33
Belajar dan Ikut Serta Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Meningkatkan Keunggulan Bersaing Industri Indonesia

TEMA
"Business Process Improvement Introduction"

NARASUMBER :
DR. Fauzi Arif RH. MM., (Factory Manager at PT Guentner Indonesia)

WAKTU & LOKASI :
Minggu, 25 November 2018, Pukul 10.00 - 12.30
Departemen Manajemen Teknologi ITS (MMT-ITS)
Kampus ITS Tjokroaminoto
Jl. Tjokroaminoto No.12A Tegalsari, Surabaya

PENDAFTARAN :
HTM : Rp 100.000
Nomor rekening : 465-041-7009
Bank BCA (atas nama : Wijanarko Kertowijoyo)

Contact Person :
@taufanyanuar
taufanyanuar@yahoo.com
0812 3666 9624

Saturday, October 20, 2018

Back to Basic


Dulu tahun 2010, kita sama-sama dari basic sehingga belajar dari bawah dan sekarang sudah sangat hererogen sehingga memberikan kompleksitas sendiri.

Akan lebih mudah jika komunitas ini dihuni orang yang berorientasi dan tujuan sama oleh karena itu butuh regenerasi jika mau dipertahankan, sehingga lebih mudah beranjak dari basic lagi.

Seiring dengan sudah terlalu lama vakum, bertempat di Cafe Rollas, Cito Surabaya beberapa Pengurus IPOMS Surabaya sepakat bahwa ada baiknya kita Back to Basic.

Monday, October 8, 2018

ASCM - Lebih dari Sekedar Re-branding

ASCM - asosiasi yang sebelumnya dikenal sebagai APICS (Association for Operations Management Advancing Productivity, Innovation and Competitive Succes) - telah sedikit bergelut dalam beberapa tahun terakhir. Nama baru APICS mencerminkan sebuah asosiasi yang berfokus pada rantai pasokan end-to-end.

Pada tahun 2014, organisasi bergabung dengan Supply Chain Council dan mulai menjangkau manajer rantai pasokan tingkat senior.

Tahun 2015, APICS bergabung dengan American Society of Transportation and Logistics dan menambahkan sertifikasi baru dalam bidang logistik, transportasi dan distribusi (CLTD) ke dalam portofolionya.

Pada 2017, ia bermitra dengan Deloitte untuk kompetisi kasus siswanya, menstandardisasi acara yang kini memiliki jangkauan global.


Pada konferensi tahunan yang baru saja berakhir di Chicago pada Selasa lalu, 2 Oktober 2018, APICS secara resmi mengganti namanya menjadi Association for Supply Chain Management (ASCM).

Dalam membuat pengumuman, Abe Eshkenazi, CEO ASCM, mengatakan bahwa ini lebih dari sekedar re-branding, tetapi mencerminkan sebuah organisasi yang berfokus pada “end-to-end supply chain management” (manajemen rantai pasokan end-to-end) dan  “a global operating environment” (lingkungan operasi global).

Sumber :
https://www.logisticsmgmt.com/article/ascm_more_than_a_re_branding

Tuesday, July 10, 2018

Alphabet Soup: TCO, ROI and YOU

By APICS CEO Abe Eshkenazi, CSCP, CPA, CAE
http://www.apics.org/

APICS Vision Statement
APICS—the world’s leading community for end-to-end supply chain excellence.

Supply chain professionals know how to calculate the total cost of ownership (TCO), but now other leaders and decision makers are starting to pay closer attention. This week, Huffington Post featured “Manufacturers are Taking Aim at ‘Total Cost’ With On-Demand Manufacturing,” by Vicki Holt, president and CEO of Pronto Labs.

Consider the APICS Dictionary definition of TCO: “In supply chain management, the total cost of ownership of the supply delivery system is the sum of all the costs associated with every activity of the supply stream. The main insight that TCO offers to the supply chain manager is the understanding that the acquisition cost is often a very small portion of the total cost of ownership.”

Holt suggests that TCO provides a more complete guide to costs and a more accurate indicator of return on investment (ROI). As TCO plays a greater role in production and supply chain decision-making, new approaches are gaining momentum, she writes. On-demand manufacturing is the example highlighted in the article.

“On-demand manufacturing builds on previous procurement and supply chain concepts, including just-in-time manufacturing and lean manufacturing,” Holt writes. “Its goal is simple: produce parts as they’re needed, in the exact quantities needed, and do so repeatedly and cost-effectively. This typically yields lower total production costs as it improves supply-chain efficiency while reducing inventory and other administrative supply-chain costs.”

Some of the benefits of on-demand manufacturing include ease of moving parts from prototyping to low-volume production, reducing cost and complexity, improving on-time performance, reduction in inventory costs, and lower reliance on unreliable production forecasts.

“While the purchase price of a part from an on-demand supplier may be more expensive, the supplier’s use of cost-effective tooling — and ability to improve supply chain agility — can ultimately create better value for production volumes in the tens of thousands per year compared to the larger capital expense involved in working with a traditional [manufacturing] company.”

Supply chain and inventory management essentials

When thinking about the cutting edge of manufacturing and supply chain, it can be helpful to remember the basics. Consider the definition of just in time (JIT) as it appears in the APICS Dictionary: “A philosophy of manufacturing based on planned elimination of all waste and on continuous improvement of productivity. It encompasses the successful execution of all manufacturing activities required to produce a final product, from design engineering to delivery, and includes all stages of conversion from raw material onward. The primary elements of just in time are to have only the required inventory when needed; to improve quality to zero defects; to reduce lead times by reducing setup times, queue lengths, and lot sizes; to incrementally revise the operations themselves; and to accomplish these activities at minimum cost …”

Saturday, July 7, 2018

Halal Bihalal dan Kopdar


Rekan IPOMS Surabaya mengadakan Halal Bihalal sekaligus makan siang di Cafe Rollas, Cito Surabaya, pukul 13:00,

Study Group IPOMS Surabaya semenjak 2010 sebagai grup pembelajaran awalnya identik dengan orang supply chain. Setelah berjalannya waktu cukup heterogen, yaitu tidak saja dari Operations dan Supply Chain namun juga dari orang Finance (10%), orang HR & GA (10%), orang QC (20%).

Ada usulan lain, bahwa kegiatan Surabaya Study Group gandeng dgn komunitas lain seperti IPSCLC dan ALI.

Sunday, December 31, 2017

Key Performance Indikator

Malam menjelang pergantian tahun dari tahun 2017 ke tahun baru 2018, dalam whatsapp grup Surabaya Study Group cukup ramai membahas topik yang cukup hangat dan seru yaitu KPI. apa dan bagaimana pembahasannya?

Mari kita simak

Sebelum membahas inti topik dari KPI, maka ada baiknya yang dibahas adalah BSC, baru kemudian turunannya adalah KPI dan activity plan.

BSC jika sudah dijalankan biasanya tahun-tahun berikutnya hanya review dan finetune terhadap lingkungan bisnis, sedangkan yang berubah adalah metric dan target.

BSC bisa dibagi menjadi 4, yaitu:
People,
Process,
Quality dan
Cost/Finance

KPI = key performance indikator, atau indikator performa kinerja

KPI bisa di design dari Top Management.

KPI adalah suatu metode untuk mengukur sejauh mana keberhasilan atau kegagalan dari apa yang kita lakukan.

KPI adalah titik yang harus dicapai individu untuk melaksanakan jobnya.

KPI adalah salah satu tools untuk bahan evalusasi dari kinerja yang sudah dilakukan.

KPI adalah parameter kerja yang dapat digunakan untuk menentukan kita dapat bonus kinerja atau tidak di akhir tahun.

KPI adalah tolak ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian hasil kinerja terhadap sasaran strategi yang telah ditentukan

KPI as guideline to conquer company goals.

KPI adalah alat ukur  sebelum dan sesudah kegiatan dilakukan. Keberhasilan ditentukan dengan perbandingan hasil ukur tersebut. Ada yang semakin naik yang artinya berhasil, dan juga ada yang semakin turun yang artinya berhasil.

Keberhasilan juga bisa diukur berdasarkan target yang ditetapkan di awal kegiatan. Ketercapaian target setting menentukan penilaian berhasil atau tidaknya.

Secara garis besar KPI untuk Supply Chain Organization dibagi menjadi 2, yaitu primary KPI dan secondari KPI. Primary KPI is must available yang terdiri dari 3, yaitu :
pertama Delivery Reliability/Customer Order Fulfillment,
kedua Supply Chain Cost,
ketiga Supply Chain Responsiveness.

KPI masih belum masuk ke bab metode, karena KPI baru merupakan indikator kesuksesan saja dari variabel-variabel target yang ditentukan.

Setelah itu kita buat WIG, lead measure, score board dan irama akuntabilitas, baru kemudian kita targetkan KPI kita.

Saturday, December 23, 2017

Bitcoin

Saat liburan menjelang hari raya Natal tahun 2017 dan liburan Tahun Baru 2018, di whatsapp grup Surabaya Study Group sedang ramai pembicaraan mengenai Bitcoin, cukup seru. Berikut adalah rangkuman dan kompilasi dari diskusi online tersebut.

Bitcoin adalah uang virtual yang full diterbitkan swasta, bukan negara tertentu. Bitcoin tanpa pengawas dari negara ataupun instasi manapun. Sehingga dapat menimbulkan bahaya karena nilainya tidak riil seperti bubble atau gelembung dan berakibat bisa pecah dalam semalam.

Bitcoin bisa berfungsi sebagai alat pembayaran, tapi tidak mempunyai wujud fisik seperti lembaran uang kertas ataupun koin. Bitcoin juga dapat diuangkan ke dalam mata uang resmi/konvensional.

Bitcoin merupakan terjemahan dari sebuah konsep bernama cryptocurrency yang pertama kali dicetuskan oleh Wei Dai pada tahun 1998. Konsep ini menekankan pada sistem kendali yang mengatur penciptaaan dan juga transaksinya, di mana algoritma kriptografi mengatur hanya pemilik Bitcoin-lah yang bisa menggunakan uang tersebut, masing-masing dari pemilik Bitcoin berperan sebagai pengguna sekaligus pengatur mata uang, bukan oleh pemerintah atau lembaga tertentu.

Mata uang Bitcoin pertama diterbitkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009. Namun setahun kemudian ia meninggalkan proyek Bitcoin tanpa banyak mengungkap siapa dirinya. Tapi pengembangan Bitcoin terus berjalan dengan munculnya pengembang-pengembang baru dalam komunitasnya, bahkan aplikasinya yang berbasis open source dapat diunduh oleh pengembang yang ingin mereview kembali barisan kode di dalamnya atau membuat sendiri aplikasi Bitcoin versi mereka.

Bitcoin menggunakan jaringan peer-to-peer tanpa penyimpanan terpusat, yang artinya ia dapat ditransfer ke manapun selama ada jaringan internet. Mata uang yang dimiliki oleh seseorang nantinya akan disimpan di suatu aplikasi bernama Bitcoin Wallet. Jadi, Anda tidak akan menerima uang dalam wujud fisik apapun selain berupa aplikasi di gadget Anda. Aplikasi ini harus terpasang di komputer, tablet atau smartphone penerima dan pengirim.

Bitcoin ibarat ikan di laut, setelah kita menangkap ikan, selanjutnya kita bisa panen atau juga bisa dijual atau di-rupiah-kan atau juga kadang bisa jadi alat tukar langsung.

Seperti ikan di laut yang mempunyai banyak jenis, begitu pula cryptocoin ini, banyak jenis mata uang virtual, salah satunya adalah bitcoin, sedangkan yang lain juga ada xrp, xlt dan sebagainya.

Untuk memperoleh Bitcoin, kita bisa menambang sendiri, mirip dengan sebagai nelayan di laut. Atau kita bisa jadi trader yang berspekulasi. Saat harga ikan turun kita borong dan jual di kota lain.

Bit pada bitcoin merefer ke komputer, jadi koin dari Bitcoin digenerate oleh komputer

Mata uang virtual ini tidak jelas supply dan demandnya.

Total market crypto sampai hari ini 7.26 Quad, dan volume perdangan dalam 24 jam hampir 600 trilliun, hal ini merupakan menjadi hal yang gurih bagi sebagian orang, buat investasi atau hal yang lain.

Dalam hal politik, mata uang virtual ini dapat menjatuhkan sebuah negara dengan crypto currency tersebut.

Bitcoin juga dapat diibaratkan seperti tanah, yaitu dimana tanah tidak bisa bertambah kecuali ada reklamasi. Sehingga tiap bulan harganya bisa meningkat karena yang membutuhkan tanah semakin bertambah. Tidak ada seorangpun yang bisa mengatur harganya, murni ditentukan oleh semakin banyak peminat maka semakin tinggi harganya.

Saat ini lebih dari 100 aset digital berbasiskan blockchain yang sudah dipublikasikan dan diperjualbelikan. Sehingga Bitcoin pada intinya sebetulnya hanya perusahaan teknologi startup yang menjual teknologi berbasis blockchain.

Dengan solusi teknologi blockchain yang dipunya, dipercaya bahwa mereka akan mampu melakukan inovasi terhadap kebuntuan teknologi informasi saat ini